Biografi Paus Benediktus XVI
By kampungrenungan January 10, 2013 Paus Benediktus XVI Vatikan
Benediktus XVI lahir di di Marktl am Inn, Bavaria, Jerman pada 16 April 1927 dengan nama Joseph Alois Ratzinger dan dibaptis keesokan harinya. Cita-cita untuk menjadi imam telah disadari sejak masih kecil sampai kemudian Joseph berkesempatan melanjutkan pendidikannya di seminari pada tahun 1939 saat itu usianya 14 tahun. Setahun setelah Joseph menjalani pendidikan di seminari dia berkesempatan bergabung dengan Pemuda Hitler yang menjadi ketentuan wajib pada saat itu.
Pada bulan Januari 1946 Joseph bersama Georg kakaknya masuk kembali ke seminari di Keuskupan Munich. Disebabkan lamanya waktu yang dihabiskannya dalam wajib militer maka saat kembali menjalani pendidikan di seminari banyak ketertinggalan yang harus dikejar untuk meraih cita-citanya sebagai pelayan Tuhan. Namun pada tahun-tahun di seminari ini juga Joseph semakin memiliki keyakinan yang kuat akan pilihannya uantuk menjadi imam. Pada akhirnya Joseph Ratzinger bersamaan dengan Georg ditahbiskan sebagai imam pada 29 Juni 1951, oleh Kardinal Faulhaber di Katedral Freising, pada Pesta Santo Petrus dan Paulus.
Setelah tahbisan itu Pastor Ratzinger ditugaskan sebagai pengajar di seminari disamping tetap melanjutkan belajar filsafat dan teologi di Universitas Munich dan di Sekolah Tinggi Freising. Sampai pada tahun 1953, ia memperoleh gelar doktor dalam bidang teologi dengan desertasi tentang Umat dan Rumah Tuhan berdasarkan Doktrin Gereja St Agustinus. Setelah itu praktis tugas Pastor Ratzinger selalu berhubungan dengan mengajar. Pada tahun 1969 Pastor Ratzinger dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang teologi dogmatik dan sejarah dogma di Universitas Regensburg, pada tahun itu juga dia sekaligus menjabat Wakil Rektor di universitas yang sama.
Ratzinger diangkat menjadi uskup Agung Munich dan Freising oleh Paus Paulus VI pada bulan Maret 1977 dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 28 Mei 1977 dengan moto episkopalnya adalah “Cooperatores Veritatis”, pekerja-pekerja kebenaran, yang diambil dari 3 Yohanes 8. Moto ini melambangkan kesatuan kebenaran dan kasih, iman pribadi dan kekatolikan Gereja. Selain itu melambangkan relasi antara para gembala dan umat beriman, yang dengan caranya masing-masing saling ikut ambil bagian dalam kewajiban dan rahmat Injil. Tidak berhenti sampai disitu pada 27 Juni 1977, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai kardinal.
Pada masa kepausan Yohanes Paulus II Kardinal Ratzinger diangkat sebagai Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, Presiden Komisi Kitab Suci dan Komisi Teologi Internasional Kepausan pada tanggal 25 November 1981. Lalu pada tanggal 6 November 1998, Kardinal Ratzinger dipilih sebagai Subdekan Dewan Kardinal. Kardinal Ratzinger kemudian terpilih sebagai sebagai Dekan Dewan Kardinal dan pada tanggal 30 November 2002 disahkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Kardinal Ratzinger termasuk salah seorang yang paling berpengaruh dan dihormati di Vatikan. Ia merupakan tangan kanan serta rekan terdekat Paus Yohanes Paulus II. Kardinal Ratzinger ikut berjasa pula sebagai Presiden Komisi bagi Persiapan Katekismus Gereja Katolik yang baru, setelah bekerja selama beberapa tahun akhirnya dapat diselesaikan Katekismus baru Gereja katolik pada tahun 1996. Berulangkali Kardinal Ratzinger mengatakan bahwa ia ingin mengundurkan diri ke suatu desa di Bavaria dan mengabdikan sisa hidupnya untuk menulis. Namun pada tanggal 19 April 2005 pukul 5.50 sore, Kardinal Ratzinger terpilih sebagai penerus Paus Yohanes Paulus II sebagai paus Gereja Katolik Roma yang ke-265 dengan nama Paus Benediktus XVI.
Biografi Yohanes Paulus II
Karol Józef Wojtyła, yang dikenal sebagai Yohanes Paulus II sejak terpilih menjadi Paus pada Oktober 1978, lahir di Wadowice, Polandia, suatu kota kecil berjarak 50 km dari Krakow, pada 18 Mei 1920. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir pada keluarga Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowska. Ibunya meninggal pada 1929. Kakak sulungnya Edmund, seorang dokter, meninggal pada 1932 dan ayahnya, seorang anggota angkatan darat non perwira, meninggal pada 1941. Seorang kakak perempuan bernama Olga meninggal sebelum Karol lahir.
Karol dibaptis pada 20 Juni, 1920, di gereja paroki Wadowice oleh Pater Franciszek Zak, dan menerima komuni suci pertama pada usia 9 tahun dan sakramen penguatan pada usia 18 tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah atas Marcin Wadowita di Wadowice ia mendaftar di Universitas Jaggiellonian di Krakow pada 1938 dan di suatu sekolah drama.
Pasukan pendudukan Nazi menutup universitas tersebut pada 1939 dan Karol muda harus bekerja di suatu pertambangan (1940-1944) dan kemudian di pabrik kimia Solvay untuk mendapatkan nafkah hidup dan untuk menghindarkan diri dideportasi ke Jerman.
Pada 1942, sadar akan panggilannya untuk menjadi imam, ia memulai kursus-kursus di seminari bawah tanah Krakow, yang diselenggarakan oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, uskup agung Krakow. Pada waktu yang sama, Karol Wojtyla menjadi salah satu perintis “Rhapsodic Theatre” yang juga bergerak di bawah tanah.
Setelah Perang Dunia Kedua, setelah seminari tinggi Krakow sudah dibuka kembali, Karol melanjutkan studinya di situ dan di fakultas teologi Universitas Jagiellonian. Ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agung Sapieha di Krakow pada 1 November 1946.
Tidak lama setelah itu, Kardinal Sapieha mengirim dia ke Roma di mana beliau belajar di bawah bimbingan Garrigou-Lagrange, seorang Dominikan Perancis. Ia menyelesaikan doktoratnya di bidang teologi pada 1948 dengan tesis tentang iman dalam karya-karya St. Yohanes dari Salib (Doctrina de fide apud Sanctum Ioannem a Cruce). Pada waktu itu, dalam masa liburan, ia menjalankan pelayanan pastoral di antara para imigran Polandia di Perancis, Belgia dan Belanda.
Pada 1948 Karol kembali ke Polandia dan menjadi pastor rekan beberapa paroki di Krakow dan juga kapelan bagi para mahasiswa universitas. Masa ini berlangsung sampai 1951 ketika ia menempuh lagi studinya di bidang filsafat dan teologi. Pada 1953 ia mempertahankan tesis tentang “evaluasi kemungkinan mendasarkan etika Katolik pada sistem etika Max Scheler” di Universitas Katolik Lublin. Di kemudian hari, ia menjadi profesor teologi moral dan etika sosial di seminari tinggi Krakow dan di fakultas teologi Lublin.
Pada 4 Juli 1958 ia diangkat menjadi Uskup tituler Ombi dan Uskup Bantu Krakow oleh Paus Pius XII, dan ditahbiskan pada 28 September 1958, di Katedral Wawel, Krakow, oleh Uskup Agung Eugeniusz Baziak.
Pada 3 Januari 1964 ia diangkat menjadi Uskup Agung Krakow oleh Paus Paulus VI, yang menjadikannya Kardinal pada 26 Juni 1967, dengan gereja tituler S. Cesareo in Palatio dalam tingkatan para diakon, dan kemudian diangkat pro illa vice dalam tingkatan para imam.
Selain mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965), di mana beliau memberikan kontribusi penting pada rancangan Konstitusi Gaudium et Spes, Kardinal Wojtyla berpartisipasi dalam semua pertemuan Sinode para Uskup.
Para Kardinal memilihnya menjadi Paus dalam konklaf 16 Oktober 1978 dan mengambil nama Yohanes Paulus II. Pada 22 Oktober, Hari Tuhan, dengan mulia beliau mengawali pelayanannya sebagai pengganti Petrus ke 263. Masa kepausannya, salah satu yang terpanjang dalam sejarah Gereja, berlangsung hampir 27 tahun.
Didorong oleh keprihatinan pastoralnya bagi semua Gereja dan oleh rasa keterbukaan dan amal-kasih terhadap seluruh umat manusia, Yohanes Paulus II menjalankan pelayanan sebagai pengganti Petrus dengan semangat misioner yang tak kenal lelah, penuh dedikasi dan dengan segenap tenaganya. Beliau mengadakan 104 kunjungan pastoral di luar Itali dan 146 di dalam Itali. Sebagai Uskup Roma ia mengunjungi 317 dari 333 paroki kota.
Dibandingkan dengan para pendahulunya beliau mengadakan lebih banyak pertemuan dengan Umat Allah dan para pemimpin bangsa-bangsa. Lebih dari 17.600.000 peziarah mengambil bagian dalam audiensi-audiensi umum yang diadakan pada hari Rabu (lebih dari 1160), tidak terhitung audiensi-audiensi khusus dan perayaan-perayaan keagamaan lainnya (lebih dari 8 juta peziarah selama Yubileum Agung Tahun 2000 saja), serta jutaan umat yang ditemuinya dalam kunjungan-kunjungan pastoral di Itali dan di seluruh dunia. Kita juga harus mengingat begitu banyak tokoh pemerintahan yang dijumpainya dalam 38 kunjungan resmi, 738 audiensi dan pertemuan yang diadakan dengan para Kepala Negara, serta 246 audiensi dan pertemuan dengan para Perdana Menteri.
Cintanya kepada orang-orang muda menghantar dia untuk membentuk Hari Kaum Muda Sedunia. 19 Hari Kaum Muda Sedunia yang dirayakan selama masa kepausannya mengumpulkan jutaan kaum muda dari seluruh dunia. Pada waktu yang sama perhatiannya kepada keluarga diungkapkan dalam Pertemuan-Pertemuan Keluarga-Keluarga Sedunia, yang dimulainya pada 1994.
Yohanes Paulus II sukses mendorong dialog dengan orang-orang Yahudi dan wakil-wakil dari agama-agama lain, yang beberapa kali diundangnya untuk pertemuan-pertemuan doa bagi perdamaian, khususnya di Assisi.
Di bawah bimbingannya Gereja menyiapkan diri untuk milenium ketiga dan merayakan Yubileum Agung tahun 2000 sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang termuat dalam Surat Apostolik Tertio Millennio Adveniente. Gereja menghadapi era baru, sambil menerima petunjuk-petunjuknya dalam Surat Apostolik Tertio Millennio Ineunte, di mana beliau mengindikasikan kepada umat jalan menuju masa depan mereka.
Dengan Tahun Penebusan, Tahun Maria dan Tahun Ekaristi, beliau mempromosikan pembaruan rohani Gereja.
Ia memberikan dorongan luar biasa untuk kanonisasi-kanonisasi dan beatifikasi-beatifikasi, yang berfokus pada teladan-teladan kesucian yang tak terbilang jumlahnya sebagai insentif bagi orang-orang zaman kita ini. Ia merayakan 147 beatifikasi, pada saat mana ia memaklumkan 1.338 Beato/a serta 51 kanonisasi untuk 482 Santo/Santa. Ia menjadikaan Theresa dari Kanak-Kanak Yesus sebagai Doktor Gereja.
Beliau memperluas Kolese para Kardinal, dengan menciptakan 231 Kardinal (tambah satu in pectore/dalam hati) dalam 9 konsistori. Beliau juga mengundang enam pertemuan paripurna Dewan Kardinal.
Beliau mengorganisir 15 pertemuan berupa Sinode para Uskup, yakni enam Pertemuan Umum Biasa (1980, 1983, 1987, 1990, 1994 dan 2001), satu Pertemuan Umum Luar Biasa (1985) dan delapan Pertemuan Khusus (1980,1991, 1994, 1995, 1997, 1998 (2) dan 1999).
Diantara dokumen-dokumennya yang paling penting adalah 14 Ensiklik, 15 Ajakan Apostolik, 11 Konstitusi, 45 Surat Apostolik.
Beliau mempromulgasikan Katekismus Gereja Katolik dalam cahaya Tradisi sebagaimana secara otoritatif ditafsirkan oleh Konsili Vatikan Kedua. Beliau juga membarui Kitab-Kitab Hukum Gereja Timur dan Barat, membentuk Lembaga-Lembaga baru dan mengorgansir kembali Kuria Roma.
Sebagai seorang Doktor beliau juga mempublikasikan lima buku karangannya sendiri: "Crossing the Threshold of Hope" – “Melewati Ambang Harapan” (Oktober 1994), "Gift and Mystery, on the fiftieth anniversary of my ordination as priest" – “Anugerah dan Misteri, pada hari ulang tahun kelima puluh tahbisan imamat saya” (Nopember 1996), "Roman Triptych" poetic meditations – meditasi-meditasi puitis “Triptik Romawi” (Maret 2003), "Arise, Let us Be Going" – “Bangkitlah, Marilah Kita Melangkah” (Mei 2004) dan "Memory and Identity" – “Kenangan dan Identitas” (Pebruari 2005).
Dalam cahaya Kristus yang bangkit dari orang-orang mati, pada 2 April tahun Tuhan 2005, pada pukul 21.37, mendekati akhir hari Sabtu dan Hari Tuhan sudah dimulai, pada Oktaf Paskah dan Hari Minggu Kerahiman Ilahi, Imam terkasih Gereja, Yohanes Paulus II, meninggalkan dunia ini menuju Bapa.
Sejak malam itu sampai hari pemakaman almarhum Sri Paus pada 8 April lebih dari tiga juta peziarah datang ke Roma untuk memberikan penghormatan kepada jasad Sri Paus. Banyak dari antara mereka mengantre sampai 24 jam untuk memasuki Basilik Santo Petrus.
Pada 28 April Bapa Suci Benediktus XVI mengumumkan bahwa masa tunggu lima tahun sebelum suatu proses beatifikasi dan kanonikasi dimulai dilonggarkan bagi Yohanes Paulus II. Proses beatifikasi secara resmi dibuka oleh Kardinal Camillo Ruini, vikaris jendral untuk keuskupan Roma, pada 28 Juni 2005.








